Arif Patrick Rachmat, Terapkan Teknologi Pendukung Produktivitas Pangan


Arif Patrick Rachmat, Komisaris Utama PT Triputra Agro Persada

 

Agar Indonesia semakin kuat di bidang ketahanan pangan, produktivitas petani harus ditingkatkan. Rantai pasok dari petani sampai meja konsumen harus ditekan seefisien mungkin. Dan, pertanian di Indonesia juga harus sudah memanfaatkan teknologi seperti drone, barcoding, dan sensor agar lebih maju dan berdaya guna. Pemikiran inilah yang mendorong Arif Patrick Rachmat, putra kedua Theodore Permadi Rachmat (Teddy) bergelut di industri agrobisnis, sekaligus menjalankan tugas yang diberikan ayahandanya.

 

Di bawah bendera PT Triputra Agro Persada (TAP), Arif menjabat sebagai komisaris utama.
“TAP lahir tahun 2005, sekitar empat bulan setelah saya membantu Ario (Christian Ariano Rachmat) mewujudkan proses leverage buy out Triputra untukjoin ke Adaro Energy,” kata Arif. Ia membantu usaha sang kakak, Ario, yang terlebih dahulu bergabung dengan Adaro Eenergy.

 

Arif Rachmat Berbicara Dalam Palm and Lauric Oils Price Outlook Conference & Exhibition 2019 di Kuala Lumpur

 

Komisaris Utama PT. Triputra Agro Persada, Bapak Arif P. Rachmat memberikan presentasi berjudul Palm Oil 2018-2019, A Defining Moment For Long-Term Sustainability And Price di acara Palm and Lauric Oils Price Outlook Conference & Exhibition (POC 2019) di Kuala Lumpur, Malaysia, 6 Maret 2019.

 

Dalam presentasinya, Bapak Arif optimis bahwa di tahun 2019 ini harga minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) akan membaik hingga 5 tahun mendatang. Beliau juga mengatakan bahwa untuk tahun ini harga CPO akan berkisar US$550 hingga US$600 per ton.

 

POC 2019 merupakan Konferensi tahunan yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan menampilkan para pembicara yang memiliki reputasi baik di bidangnya dan dihadiri oleh peserta dari 50 negara. Konferensi ini diselenggarakan oleh Bursa Malaysia Derivatives Berhad (BMD) dengan tema tahun ini “Manage Uncertainties, Harvest Global Opportunities.”

 

PT Triputra Agro Persada Bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Afiliasi Lokal dari The Nature Conservancy , Meluncurkan Gerakan Bersama untuk Mencegah Karhutla Melalui Pemberdayaan Masyarakat Desa

 

PT Triputra Agro Persada (TAP) bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang merupakan afiliasi lokal dari The Nature Conservancy (TNC), resmi meluncurkan sebuah gerakan bersama untuk mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) melalui pendekatan komunitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Dengan mengusung tema “Empowering Community for Our Future” atau ”Memberdayakan Komunitas untuk Masa Depan Kita”, kegiatan ini diselenggarakan Hari Senin, 18 Maret 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta.

 

Gerakan ini diinisiasi oleh Arif P. Rachmat, Komisaris Utama TAP, yang juga menjabat sebagai Board of Trustees The Nature Conservancy (TNC). Dalam acara ini, hadir sebanyak kurang lebih 50 perusahaan dan institusi, yang terdiri dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, perusahaan pertambangan, Perusahaan Hutan Tanam Industri (PHTI) di wilayah Kalimantan Timur, asosiasi, perusahaan investasi dan pimpinan media.

 

Peran Swasta Menjadi Kunci Keberhasilan Keberlanjutan Bisnis

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani (tengah) berbincang dengan Managing Director for Trading and Downstream PT. Triputra Agro Persada Sutedjo Halim (dari kiri), Wakil Ketua Umum Kadin bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani, Presiden Direktur PT. Riau Andalan Pulp and Paper Sihol P Aritonang, dan Tim Nasional SDGs Indonesia, Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, Senin (11/3/2019). Foto : Bisnis.com

 

Jakarta, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melihat bahwa swasta memiliki peran yang sangat besar dalam mendorong implementasi SDGs. Oleh karena itu, Kadin Indonesia mendorong peran aktif perusahaan swasta untuk menyukseskan tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di dalam negeri.

 

Arif Rachmat: Indonesia Bisa Diuntungkan oleh Perang Dagang

Jakarta, Beritasatu.com - Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sebetulnya menyimpan peluang besar bagi Indonesia baik untuk meningkatkan ekspornya atau menjadi basis produksi bagi sektor-sektor industri tertentu yang terkena dampak sengketa dua raksasa ekonomi dunia itu.
 

Komisaris Utama PT Triputra Agro Persada, Arif Rachmat, mengatakan dua negara itu sekarang membentuk dua kubu yang masing-masing makin mengintensifkan perdagangan intra-kawasan, sehingga mengurangi ekspor Tiongkok ke AS atau sebaliknya. Celah inilah yang bisa diisi oleh Indonesia.
 

"Sebelumnya kita hanya punya satu pusat gravitasi, sekarang saya melihat dunia sebetulnya punya dua kutub gravitasi. Satu di Amerika Serikat, satu di Tiongkok," kata Arif dalam diskusi Asia Thinker Series di Hotel JW Marriott, Jakarta, Kamis (31/1).
 

Triputra Group Menyerahkan Donasi Tsunami Banten dan Lampung Melalui PMI

 


Managing Director Trading & Downstream Triputra Agro Persada Group Sutedjo Halim (keempat kiri) menyerahkan donasi bantuan untuk korban Tsunami Banten dan Lampung kepada Sekjen PMI Ritola Tasmaya (ketiga kanan) disaksikan Chief of Supply Chain & IT Kirana Megatara Group Hendy Endarwan (kiri), Direktur PT. Tiga Daya Digital Indonesia Tjandra Tedja (kedua kiri), Direktur PT. Sumber Energi Pangan Johanes Candra (ketiga kiri), Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Letjen TNI (Purn) Sumarsono (kedua kanan) dan Deputy CEO Padang Karunia Group Adrian Sugih (kanan) di Markas PMI Pusat (14 Januari 2019).

 

Triputra Group bersama-sama dengan Subco yang berada di gedung The East mewujudkan nilai Compassion, yang merupakan salah satu DNA Triputra, dengan menggalang dana dari karyawan dan managemen untuk membantu korban Tsunami Banten dan Lampung yang terjadi pada tanggal 22 Desember 2018 lalu.

 

Dialog Menteri Agraria dan Tata Ruang RI Dengan KUD Akso Dano Mengenai Kemitraan Antara Petani Plasma dengan Perusahaan Sawit

Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia (ATR) Sofyan Djalil bertemu dengan Direktur Utama PT. Brahma Binabakti (PT BBB) George Oetomo di Kantor Pertanahan Muaro Jambi, Jambi.

 

Muaro Jambi, 16 Desember 2018 - Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia, Sofyan Djalil mengundang Koperasi Unit Desa (KUD) Akso Dano yang merupakan binaan PT. Brahma Binabakti (PT. BBB) di Kantor Pertanahan Muaro Jambi, Jambi, Sumatera. Kunjungan informal ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Muaro Jambi, Fadil Arief, Kepala Kantor Wilayah Provinsi Jambi, Beny Hermawan, dan Seluruh Kepala Kantor BPN Provinsi Jambi.

Ketua dan Wakil Ketua Global Agribusiness Alliance Yang Baru

 

Global Agri-business Alliance (GAA) mengangkat Gaurav Dhawan, CEO Phoenix sebagai Chair dan Arif Rachmat, CEO PT. Triputra Agro Persada (TAP) sebagai Vice Chair. Pengukuhan ketua dan wakil ketua ini dilakukan pada Rapat Tahunan CEO Council tanggal 25 Oktober 2018 di Singapura.

TAP Mendapatkan GOLD AWARD di ICQCC 2018!

 


Darmawan Sigit Purwoko & Joel Tuah Batumamak Sihite (QCP SPIRIT – BBB MILL) menerima "GOLD AWARD" di International Convention on Quality Control Circles 2018 (CQCC) yang diselenggarakan tanggal 22-25 Oktober 2018, di Resort Sentosa, Singapura.

 

Pada ajang yang bertema "Future-proof, Future-ready Organizations through Innovation and Quality Circles and Business Excellence" kali ini menampilkan tren, proyek dan praktik tercanggih yang dimiliki oleh tim yang berasal dari Negara-negara di Asia.

 

Kuncinya: Membangun Nilai Perusahaan

oleh Arif Patrick Rachmat - CEO PT Triputra Agro Persada
Senin, 08 Oktober 2018 / 14:08 WIB

 

 

Sejak awal tahun 2018 industri kelapa sawit di tanah air menghadapi tekanan penurunan harga. Berbagai kondisi nyatanya tak mampu mengangkat harga jual minyak sawit mentah.

 

Kepada jurnalis Kontan Putri Werdiningsih, Arif Patrick Rachmat, Chief Executive Officer (CEO) PT Triputra Agro Persada berbagi pengalaman menghadapi gejolak harga ini.

 

Meski telah merantau selama 15 tahun ke Amerika Serikat (AS), akhirnya saya memutuskan pulang ke Indonesia.

 

Saya tahu, saya pasti balik ke Indonesia, karena akar keluarga kami cukup kuat. Pada akhir tahun saya 2004 kembali ke Jakarta. Padahal waktu itu saya sedang bekerja di General Electric dan sedang mengikuti Operation Management Leadership Program (OMLP).