Arif Patrick Rachmat: Ahli Waris Kerajaan Bisnis yang Hobi Membantu Sesama

Menjadi calon ahli waris kerajaan bisnis bernilai triliunan rupiah tidak membuat Arif Patrick Rachmat, putra T.P. Rachmat, pendiri Grup Triputra, lupa diri. Tak cuma “hobi” bekerja keras sebagai CEO PT Triputra Agro Persada (TAP), salah satu anak usaha Triputra, Arif pun ternyata serius menjalankan berbagai aktivitas sosial di bawah bendera Yayasan Gerakan Kepedulian Indonesia (GKI).

 

Perjalanan gerakan filantropi yang dilakukan Arif tidak lepas dari filosofi dan pola didik orang tuanya. Dalam pandangan Arif, sebenarnya efek paling besar pada masyarakat bukan dari aksi sosial, donasi atau gerakan filantropi yang dilakukan dia atau keluarganya. Namun, justru dari efek ekonomi yang ditimbulkan karena bisnis perusahaan yang terus tumbuh. Ia mencontohkan TAP yang dibangun 11 tahun lalu hanya dengan lima orang, sekarang sudah mempekerjakan 3.000 karyawan. Karyawan itu diberi perubahan di Kalimantan, lokasi perkebunan kelapa sawit TAP. “Kalau jumlah karyawan 3.000 orang itu dikali empat, yang merupakan jumlah anggota keluarga mereka, berarti sudah 12.000 yang ditanggung TAP.

 



Arif Patrick Rachmat, CEO PT Triputra Agro Persada

 

Dengan donasi tidaklah sustainable sebenarnya, namun bagaimanapun juga kami menganggap itu tidak cukup, kerja sosial penting,” ujar pria kelahiran 1975 ini.

 

Karena itu, Arif dan istrinya, Titin Rachmat, merasa berkewajiban melakukan kegiatan yang terus menimbulkan empati dan berkontribusi pada kemanusiaan. Arif yang 15 tahun hidup di Amerika Serikat mengaku terpanggil kembali ke Indonesia untuk memberikan kontribusi lebih kepada Tanah Air. Bukan saja membangun bisnis yang bisa menyediakan lapangan kerja, tetapi juga melakukan aksi sosial.

 

Kegiatan sosial Arif telah dimulai ketika masih di AS. Ia pernah terlibat dalam aksi sosial kala bekerja di General Electric di AS, yaitu turut serta dalam Habitat for Humanity, berupa pembangunan rumah buat masyarakat tidak mampu di sana. Kembali ke Indonesia pada 2005, setahun setelah itu ia dan istri mencari kegiatan sosial seperti apa yang bisa mereka kerjakan. Keduanya lantas diajak seorang sahabat untuk terlibat dalam kegiatan membantu orang yang hidup dari sampah. “Hari pertama di sana kami bersih-bersih, community development warga sekitar Sungai Ciliwung,” ujarnya.

 

Sejak awal, Arif tidak mau kegiatan sosial yang dikerjakan bersama istri berbau agama. Ia ingin bersifat sosial yang universal karena menurutnya, agama menjadi jarak antarmanusia. “Meskipun Katolik, saya tidak masuk filantropi yang terkait agama saya. Kegiatan itu sebenarnya ada hubungannya dengan yayasan di Filipina, di sana Katoliknya kental, tetapi di sini, yayasan ini lebih universal,” ungkapnya.

 

GKI yang menaungi aktivitasnya kala itu kemudian didorong Arif dan istrinya untuk menjadi kegiatan yang berdampak lebih besar dan luas lagi. Karena itu, pada 2010 GKI dibuatkan badan hukum resmi sebagai yayasan dengan akte pendirian pada 21 Mei 2011, dan Arif sebagai chairman-nya.

 

Arif menunjuk Suwani, pria yang bekerja di TAP, untuk mengelola GKI. Suwani banyak bergerak mengurusi GKI pada akhir pekan. GKI dalam aktivitasnya lebih fokus pada aktivitas pemberdayaan komunitas di bidang pendidikan, kesehatan, pembangunan, dan perawatan infrastruktur. Resminya, kegiatan GKI fokus pada lima pilar yang bertajuk AKSI Bersama, yaitu GK Komunitas, GK Belajar, GK Sehat, GK Produktif dan GK Infrastruktur. AKSI Bersama ini menurut Arif juga menggandeng teman-temannya sesama pemimpin perusahaan di komunitas Young Presidents Organization, makanya disebut GK Partner & Friends. “Intinya, community empowerment,” ujar Arif ketika ditemui SWA di kantornya, Menara Kadin, Lantai 23, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan.

 

Arif yang juga menjabat Ketua Komisi Tetap Kamar Dagang dan Industri menyebutkan, GKI telah membangun 36 rumah sederhana di daerah Karawaci untuk masyarakat kurang mampu. Aksi ini sebenarnya terinspirasi dari gerakan Habitat for Humanity yang pernah diikutinya. Hanya saja, ternyata ia merasakan ada kendala untuk membuatnya menjadi gerakan lebih besar. Pasalnya, harga tanah di kawasan Jabodetabek sudah kadung melambung tinggi, sehingga sangat sulit mencari lahan yang cocok untuk dibangun rumah bagi kaum papa.

 

Namun, sejak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Gubernur DKI, program rumah susun sederhana sewa (rusunawa) menjadi angin segar buat GKI. Pasalnya, rusunawa ini merupakan sarana tempat tinggal layak huni yang sudah didukung Pemda DKI untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

 

Arif melihat ada peluang bagi GKI untuk berkarya di rusunawa. Pasalnya, setelah penduduk tinggal di rusunawa, Pemda DKI terlihat kekurangan orang yang mengoordinasi di sana. Di situ kemudian GKI bergerak dengan menempatkan 1-2 aktivisnya di setiap rusunawa untuk menjalankan program pengembangan sosial bersama ketua RT di setiap lantai.

 

Saat ini GKI telah mendampingi 3.500 keluarga atau 14 ribu jiwa masyarakat berpenghasilan rendah yang berada di enam rusunawa DKI, yaitu Rusunawa Daan Mogot, Jatinegara, Pinus Elok, Pulo Gebang, Cakung Barat dan Rawa Bebek, serta daerah sekitar Jakarta Timur dan Bekasi. “Di dalam rusunawa ada PAUD, ada poliklinik, kami bantu kelola, ada pula inisiatif pembentukan koperasi, bank sampah dan sentra kuliner. Kami juga gandeng Bluebird untuk GK Produktif dengan membuat sekolah mengemudi untuk penghuni di rusunawa Daan Mogot,” Arif memaparkan.

 

Lebih detailnya, berbagai kegiatan GKI sebagai berikut. GK Komunitas meliputi pembentukan dan penguatan Tenaga Pendamping Mandiri di setiap rusunawa melalui tokoh masyarakat, pemuda dan perempuan dari warga setempat untuk menjadi penggerak sukarela mandiri dalam komunitasnya (community leader).

 



Arif Patrick Rachmat

 

GK Belajar bersama GK Partner & Friends, mengadakan kegiatan belajar bagi PAUD, kegiatan bimbingan belajar, kegiatan seni dan olah raga. GK Sehat membangun dan mengadakan pelayanan kesehatan dengan mendirikan poliklinik; melaksanakan kegiatan penyuluhan, posyandu, bosbindu, jumantik, bakti sosial, dan deklarasi rusunawa bersih.

 

GK Produktif menginisiasi pembentukan Koperasi Rusunawa dan mengadakan Jambore Koperasi Rusunawa pertama kali di DKI Jakarta yang bertempat di salah satu rusunawa binaan GKI, yaitu Rusunawa Pulo Gebang. GK Produktif juga menginisiasi Rusunawa Pulo Gebang sebagai pusat kuliner melalui program Pagar Ekonomi Rusun yang diusung bersama Wali Kota Jakarta Timur, dengan salah satu binaannya yang mulai terkenal: Ayam Bakar Kalijodo.

 

Melalui Pilar GK Infrastruktur, Arif berkolaborasi dengan semua pihak dalam mendukung pemenuhan sarana dan prasarana, seperti pengadaan tempat sampah, bus sekolah, ambulans, poliklinik, PAUD sampai perlengkapan pemandian jenazah.

 

Berbagai aktivitas yang dilakukan itu pun tidak bermaksud membuat hubungan ketergantungan antara penghuni rusunawa dan GKI. Namun, GKI mendorong kemandirian warga rusunawa untuk mengelola sendiri berbagai program yang diinisiasi pihaknya. “GKI sendiri ada 11 orang yang terlibat. Makanya belum besar, baru enam rusunawa yang kami support. Maka, sistemnya harus jalan, tidak bisa rusunawa bergantung pada yayasan selamanya, agar kami bisa melakukan hal sama di rusunawa lain,” ujarnya.

 

Dalam aktivitasnya, GKI tak sendirian. Dengan memanfaatkan jejaringnya sebagai

 

pengusaha, Arif aktif mengajak pengusaha dan organisasi lain untuk bergandengan tangan dengan GKI dalam membantu sesama. Di antaranya, mengajak teman-temannya di ASEAN Philanthropy Cirle yang mencakup Victor Hartono (Djarum), Jonathan Tahir (Tahir Foundation), Belinda (Tanato Foundation), Joey Darmono (putri Pemilik Jababeka), serta putra-putri pendiri Grup Sinarmas. “Mereka berperan sesuai kelebihan masing-masing. Misalnya, Tanono Foundation fokus di pendidikan, maka yang mereka handle PAUD; Tahir Foundation punya Mayapada Hospital, maka mereka mengelola klinik kesehatan atau Puskesmas; Jababeka di waste management, Hartono lebih ke penghijauan dengan menanam pohon trembesi dan lain-lain, sedangkan saya di community development dan management facilities,” Arif memaparkan.

 

Bukan saja teman-teman bisnis, dalam aksi sosial, Arif juga menggandeng teman-temannya di organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Yang menarik, menurut Arif, generasi muda grup-grup perusahaan besar justru saling bergandengan, terlebih pada kegiatan sosial. “Kalau zaman ayah-ayah kami, memang terasa kompetisi kencang. Kalau zaman kami, common enemy, musuh kami sama, kondisi sosial yang harus diselesaikan bersama,” ujarnya.

 

Selain kepada teman-temannya, Arif dan istrinya pun berupaya membagi kegemaran mereka dalam beraktivitas sosial kepada anak-anaknya. Keduanya yakin, aktivitas sosial bisa mempererat hubungan keluarga mereka, sekaligus memberi contoh yang sangat baik kepada anak-anaknya, persis seperti yang dilakukan orang tua Arif dan orang tua istrinya dulu. Maka, setiap mengikuti kegiatan GKI, Arif dan istri mengajak kedua anaknya. “Anak-anak ternyata happy dengan kegiatan ini, mereka mau ikut menyemen, hehehe,” kata Arif seraya tertawa kecil.

 

Melakukan aktivitas sosial di waktu luang yang semestinya digunakan untuk berlibur memang tak mudah. Karena itu, Arif memberikan apresiasi tertinggi kepada istrinya dan Suwani yang mengelola yayasan ini hingga mampu menyukseskan setiap program GKI. “Tiap minggu Suwani duduk bersama Ibu Vero, istri Pak Ahok, merancang kegiatan dan membantu RPTRA Provinsi DKI,” Arif menerangkan pengorbanan karyawannya dalam mengelola GKI.

 

Hasilnya pun terlihat jelas. GKI dipercaya menjadi pemimpin dalam Tim Task Force Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) Provinsi DKI Jakarta untuk merekrut dan melatih tenaga pengelolanya. Setelah sebelumnya sukses merekrut dan melatih 335 tenaga pengelola RPTRA, pada Oktober-November tahun ini pun GKI akan kembali merekrut dan melatih 750 tenaga pengelola RPTRA.

 

Program GKI tak hanya terpusat di rusunawa, tetapi juga mendampingi keluarga yang berada di Pinang Ranti, Ciliwung (Jakarta Timur), Pekayon dan Mustikasari (Bekasi). Programnya antara lain membangun pendopo atau sanggar belajar dan 40 rumah pemberdayaan, memberikan beasiswa, serta melakukan kegiatan produktif dengan memanfaatkan kertas daur ulang.

 

 

swa.co.id